">Rayakan Natal dengan Buku - PENTASGRAFIKA.com

Rayakan Natal dengan Buku

Percetakan PENTAS GRAFIKA – Jakarta

Bila liburan akhir tahun ke Islandia saat perayaan Natal, kamu akan melihat berbagai jenis buku diletakkan di bawah pohon.

Masyarakat Islandia memang gemar membaca dan buku telah menjadi hadiah wajib setiap Natal.

Kebiasaan ini telah menjadi tradisi yang disebut Jolabokaflod atau Banjir Buku Natal.

Jolabokaflod telah dirayakan masyarakat Islandia sejak 1945.

Karena populernya tradisi ini, sebanyak 2/3 buku di Islandia akan diterbitkan menjelang Natal yaitu pada bulan November dan Desember.

Merayakan Natal dengan cara unik bertukar kado buku

Menurut Asosiasi Penerbit Islandia, hampir 7 dari 10 orang Islandia membeli setidaknya satu buku sebagai hadiah Natal.

Pada malam Natal, orang-orang akan bertukar buku dan menghabiskan malam dengan membaca.

Mereka mungkin akan meringkuk dekat perapian sambil membaca novel kriminal karya Arnaldur Indridason yang masuk dalam daftar penulis dengan karya terlaris dalam dua dekade terakhir.

“Sastra sangat penting di Islandia dan saya kira bentuk seni itu adalah sesuatu yang dapat dipahami oleh seluruh masyarakat,” kata Sigrun Hrolfsdottir, seorang seniman yang tinggal di Seltjarnarnes, distrik kecil di area Reykjavik sebagaimana diwartakan AFP.

Biasanya sebelum membeli buku, orang-orang Islandia akan melihat katalog setebal 80 halaman yang menawarkan novel, puisi, dan buku anak-anak.

Katalog ini didistribusikan secara gratis ke rumah-rumah. Pada 2019 ini, ada 842 judul buku baru yang tercantum dalam katalog.

Menjadi orang Islandia berarti membaca buku

Tradisi sastra Islandia sendiri telah lahir sekitar 900 tahun yang lalu melalui karya Sagas yang sampai saat ini masih dipelajari di sekolah-sekolah.

Icelandic Sagas menggambarkan peristiwa yang dialami penduduk Islandia pada abad ke-10 dan ke-11.

Sastra ini ditulis pada abad ke-13 dimana penulisnya berfokus pada sejarah dan silsilah keluarga yang mencerminkan perjuangan dan konflik antara bangsa Islandia dengan para pendatang.

Seperti telah disinggung di bagian awal, tradisi Jolabokaflod dimulai pada akhir masa Perang Dunia II saat Islandia masih menjadi negara miskin.

Ketika itu Islandia melakukan pembatasan impor tetapi harga kertas masih terjangkau sehingga buku menjadi pilihan untuk dijadikan hadiah Natal.

Menurut Halldor Gudmundsson, seorang penulis sekaligus mantan kepala penerbitan terbesar di Islandia, Forlagid, sastra telah menjadi bagian penting bahkan saat Islandia mencoba merdeka dari jajahan Norwegia dan Denmark.

“Membaca buku adalah bagian dari menjadi orang Islandia”, katanya.

Dewasa ini, tradisi tersebut tidak hanya dilakukan sebagai bentuk identitas tetapi juga turut membantu industri penerbitan untuk tetap bertahan.

Menurut Statistics Iceland, tradisi Jolabikaflod telah berkontribusi pada 40 persen penjualan buku Islandia di tahun 2018 lalu.

“Jika tradisi ini mati, penerbitan Islandia mati. Sangat jelas,” kata direktur Pall Valsson yang merupakan penerbit terbesar kedua di Islandia.

Menulis buku ada dalam darah orang Islandia

Membaca dan menulis seakan telah mendarah daging dalam jiwa orang Islandia.

Mereka sangat produktif dalam menulis buku. Sekitar 1 dari 10 orang Islandia mempublikasikan buku selama ia hidup.

Namun, banjir buku di Islandia ini menyulitkan para penulis buku.

“Sayangnya banyak buku bagus yang tenggelam dalam banjir buku,” kata penulis novel thriller, Lilja Siguardardittir yang bukunya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Prancis.

Islandia sendiri memiliki 83 perpustakaan, yang artinya ada satu perpustakaan untuk 4.300 penduduk.

Menurut penelitian dari Bifrost University pada 2013, lebih dari 90 persen orang Islandia membaca setidaknya satu buku setiap tahun dan 50 persen orang membaca lebih dari 8 buku setiap tahun.

Industri penerbitan buku berjuang untuk bertahan

Masalah yang kini tengah dialami Islandia adalah mahalnya harga buku.

Rata-rata harga buku yang dijual saat Jolabokaflod adalah 52 euro atau sekitar Rp 807 ribu.

Harga ini dua kali lipat lebih mahal dibandingkan di Prancis dan Inggris.

“Kamu tidak bisa membeli buku setiap tahun karena kamu akan bangkrut,” kata Brynjolfur Thorsteinsson, asisten penjualan di Mal ig menning, salah satu toko buku tertua di Reykjavik.

Mahalnya harga buku disebabkan meningkatnya pajak dari semula 7 persen menjadi 11 persen sejak 2015 lalu.

Selain itu, biaya percetakan dan impor yang tinggi juga berpengaruh pada harga buku.

Hal ini terjadi karena Islandia hampir tak memiliki hutan sehingga buku harus dicetak di luar negeri.

Harga tinggi ini berdampak negatif pada penjualan yang hampir terpangkas setengahnya sejak 2010.

Melihat kondisi ini, pemerintah berupaya mendukung industri dengan cara mengganti biaya produksi buku sebesar 25 persen.

Biaya yang diganti ini berlaku untuk buku-buku yang diterbitkan dalam bahasa Islandia baik karya asli atau terjemahan.

Anda juga bisa mengikuti Artikel PENTAS GRAFIKA melalui Social Media di Facebook, Twitter atau Channel Youtube.