">Percetakan Tertua Masih Menderu - PENTASGRAFIKA.com

Percetakan Tertua Masih Menderu

Percetakan PENTAS GRAFIKA – Jakarta

Mesin-mesin tua berumur hampir 100 tahun menderu di tengah kesibukan ruang produksi Percetakan Arnoldus, Jumat (5/8/2016).

Di tengah desakan mekanisasi modern, percetakan terbesar dan tertua di wilayah Indonesia bagian timur itu tetap bertahan dan seolah tidak lelah menghasilkan karya-karya pencerah dan pembangun.

Semangat itulah yang sejak awal dihidupkan Pater Petrus Noyen SVD saat membangun percetakan di Jalan Nusa Indah, Ende, Nusa Tenggara Timur, 90 tahun silam.

Banyak pemikiran dan karya tulis kalangan rohaniwan yang ingin diperbanyak dan diperluas bagi masyarakat.

Pada tahun 1926, Pater Petrus mendatangkan sejumlah mesin cetak dari Jerman.

Biarawan setempat diberdayakan mengurusi seluruh aktivitas di percetakan, mulai dari proses pracetak, pemasangan pelat cetak, pencetakan, penjilidan buku, hingga distribusi buku.

Cetakan pertama dikerjakan pada 21 Juni 1926 berupa buku doa yang disusun dalam bahasa Melayu berjudul Sende Aus yang berarti ‘utuslah’.

Percetakan Tertua Itu Masih Menderu

Awalnya percetakan ini mengemban misi membantu pewartaan gereja lokal di Flores.

Percetakan ini kemudian terus berkembang, tidak hanya mencetak karya rohani, tetapi juga menerbitkan berbagai karya publikasi umum.

Semua aktivitas ini mula-mula dikelola biro naskah, yang selanjutnya menjadi embrio cikal bakal lahirnya Penerbit Nusa Indah.

Pengelolaan Arnoldus semula berada dalam unit perusahaan PT Arnoldus Nusa Indah (ANI). Usaha ini melayani percetakan untuk wilayah Pulau Flores dan sekitarnya, namun dalam perkembangannya terus memperluas diri.

Perusahaan selanjutnya dikelola oleh Serikat Sabda Allah, sebuah perkumpulan religius dan misionaris Katolik yang dikenal dengan Societas Verbi Divini (SVD).

Nama Arnoldus diambil dari nama Santo Arnoldus Janssen, pendiri ordo SVD.

Pemilihan nama Arnoldus diyakini menjadi pelindung percetakan. Hingga 1970-an, Arnoldus terus berkembang sebagai pencetak terbesar karya di bidang kerohanian, sastra, kehidupan, kamus bahasa, dan pertanian di seluruh wilayah Indonesia bagian timur.

Mesin-mesin itu rata-rata berkapasitas produksi 10.000 eksemplar per jam.

Percetakan ini masih beroperasi sampai sekarang dan masih mengoperasikan sebagian kecil mesin buatan sekitar tahun 1920-an buatan Jerman.

Selain mesin cetak, ada pula mesin potong kertas, mesin pencetak sampul buku, mesin pelipat, hingga mesin jahit kertas.

Salah satu buku terbitan Nusa Indah yang melegenda adalah buku pelajaran berjudul Tata Bahasa Indonesia karangan Prof Dr Gorys Keraf.

Buku yang terbit pertama tahun 1970 ini disebut-sebut sebagai buku tata bahasa terlaris.

Buku itu juga menjadi buku pegangan pelajaran Bahasa Indonesia di seluruh Indonesia sekaligus menggantikan buku serupa karangan Sutan Takdir Alisjahbana.

Sejumlah karya tokoh-tokoh sastra Nusantara juga dicetak dan diterbitkan di sana, seperti Gerson Poyk, Korrie Layun Rampan, Linus Suryadi AG, Pamusuk Eneste, dan Arswendo Atmowiloto.

ANI juga mengembangkan sejumlah unit usaha lain.

Selain Penerbit Nusa Indah, hadir kemudian harian Flores Pos, toko buku, bengkel kayu dan besi, serta sanggar rekaman lagu.

Ketika sejumlah percetakan baru mulai bertumbuh di wilayah itu dengan memanfaatkan mesin-mesin baru berkapasitas besar, Arnoldus tetap bertahan memanfaatkan mesin-mesin lama yang dipakai sejak percetakan pertama kali beroperasi tahun 1926.

Kristo Turu, kepala divisi produksi percetakan, mengatakan, kapasitas produksi mesin-mesin tua itu kian menurun.

“Sekarang kapasitas yang bisa digunakan hanya 3.000 hingga 4.000 eksemplar per jam,” ujarnya.

Belum lagi, ujar kepala bagian mekanik, Luis Raya, perawatan ekstra rutin wajib diterapkan pada semua mesin.

“Kalau tanpa perawatan, mesin akan cepat ngadat,” katanya.

Sering kali kerusakan pada mesin membutuhkan penggantian onderdil yang harganya selangit dan harus dipesan dari Jerman atau dari distributor di Singapura.

“Biaya onderdilnya memang cenderung mahal.

Kondisi itu membuat ongkos pemeliharaan mesin cetak menghabiskan Rp 400 juta per tahun,” ujar Luis.

Kualitas Terbaik

Meski begitu, mesin-mesin tua itu masih dikatakan sebagai penghasil cetakan dan jilidan dengan kualitas terbaik.

Menurut Laurens Lewar, pengurus PT ANI, hasil cetakan dan jilidan dari Arnoldus jauh lebih awet dibandingkan hasil produksi dari percetakan modern pada umumnya.

“Jilidan seperti ini bisa bertahan sampai 50 tahun lebih, masih dalam kondisi bagus,” katanya seraya menunjukkan sebuah buku berjilid setebal 10 sentimeter.

Percetakan Arnoldus kini melebarkan sayapnya di tiga lokasi di Nusa Tenggara Timur, yakni Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat; Lewoleba, Kabupaten Lembata; dan Kota Kupang.

Pembukaan cabang itu demi pendekatan pelayanan karena di sebagian besar kabupaten di NTT belum ada percetakan.

Percetakan baru yang banyak tumbuh belakangan tidak dilihat sebagai ancaman.

Itu memacu Arnoldus agar menghasilkan kualitas karya yang lebih baik.

Perusahaan juga dianggap berhasil jika ada mantan karyawan punya usaha sendiri.

Artinya, Arnoldus telah berjalan sesuai misinya, membangun manusia pembangun.

Anda juga bisa mengikuti Artikel PENTAS GRAFIKA melalui Social Media di Facebook, Twitter atau Channel Youtube.