">Perbedaan Penerbit dan Percetakan -

Perbedaan Penerbit dan Percetakan

Jasa Percetakan Cetak Buku dan Cetak Majalah – Jakarta

Penerbit adalah perusahaan yang dikelola untuk menyiapkan naskah mentah atau manuskrip hingga menjadi buku siap cetak dalam kerangka kegiatan editorial dan perwajahan.

Percetakan adalah perusahaan yang menerima order cetak dari penerbit dan melakukan kegiatan pracetak (layout buku), cetak dan pascacetak (pengiriman buku).

Salah satu perbedaan yang terlihat jelas antara penerbit dan percetakan adalah penulis bisa mengirim/menawarkan naskahnya kepada penerbit untuk diterbitkan, sementara hal yang sama tidak berlaku bagi percetakan.

Percetakan tidak punya dewan redaksi yang bisa menilai sebuah naskah apakah layak terbit atau tidak. Selain itu, percetakan juga tidak punya jaringan pemasaran/promosi sebagaimana penerbit.

Pada sisi lain, penerbit tidak identik harus memiliki mesin cetak sebagaimana percetakan; modal utama penerbit adalah naskah dan kreativitas pengembangannya.

Adapun perangkat keras atau mesin yang dibutuhkan oleh penerbit (skala kecil) dalam menjalankan aktivitasnya bisa sebatas komputer, printer dan scanner, didukung oleh beberapa alat tulis kantor yang dibutuhkan.

Karena itu, bisnis penerbitan untuk skala kecil dapat dijalankan di sebuah ruang kecil berukuran 3 x 3 atau menjadi bisnis rumahan (home industry).

Untuk mendirikan penerbit, izin yang dibutuhkan adalah izin bisnisnya, bukan izin menerbitkan buku. Menerbitkan buku tak perlu izin, kecuali materi atau isinya memang diambil dari pihak lain yang dilindungi Hak Cipta.

Untuk alasan efektivitas dan efisiensi, penerbit yang sudah berkembang dan besar biasanya mempunyai percetakan sendiri, dengan pertimbangan:

(1) bisa menekan biaya cetak sehingga harga jual buku bisa lebih murah dan tidak memberatkan konsumen;

(2) proses cetak dalam skala massal (offset) bisa dilakukan dalam waktu cepat; dan

(3) percetakan bisa menjadi sumber income tambahan bagi penerbit jika ada order dari luar.

Percetakan : Proses dan Tahapannya

Sebelum produk percetakan siap diterbitkan lalu dipasarkan, produk tersebut harus melalui rangkaian tahapan yang termasuk di dalamnya typesetting, persiapan seni gambar (art work preparation), pemasangan gambar (image assembly), platemaking, dan operasi penyelesaian (finishing operation).

Typesetting

Setiap karakter yang dicetak diciptakan dari type.Setiap karakter huruf cetak mewakili satu huruf, nomor, atau tanda baca.

Typesetting adalah tahap pertama dalam proses percetakan. Inilah metode di mana kata-kata (disebut salinan) diubah menjadi corak yang sesuai untuk proses percetakan.

Kini, kebanyakan huruf cetak disesuaikan oleh komputer. Typesetting modern disebut juga phototypesetting atau komposisi komputer.Komputer telah merevolusi industri typesetting.

Dulu, percetakan surat kabar harus mengatur setiap karakter secara manual setiap individu huruf cetak, namun kini seorang reporter bisa mengetik cerita menggunakan keyboard komputer dan mengirimnya secara elektronik ke mesin typesetting otomatis.

Mesin-mesin ini mampu mengatur tipe pada kecepatan 10.000 karakter per detik.

Pada phototypestting, setiap karakter typeset diciptakan dari master image dari karakter tersebut. Master image disimpan baik secara fotografis maupun sebagai informasi digital didalam komputer.

Image Assembly (Pengaturan gambar)

Saat huruf cetak telah siap, maka akan dikombinasikan dengan ilustrasi dan kemudian diletakkan pada posisinya di halaman.

Proses ini disebut layout. Film dari huruf cetak dikombinasikan dengan film dari ilustrasi didalam proses yang dinamakan stripping.

Kombinasi akhir setiap film dari setiap halaman digunakan untuk platemaking.

Satu plat percetakan biasanya mengandung beberapa image dari berbagai halaman berbeda.

Film-film final dari semua halaman diposisikan diatas plat sehingga halaman-halaman tersebut berada dalam urutan yang benar setelah lembaran cetakan dicetak dan dilipat.

Proses ini disebut sebagai imposition stripping.

Platemaking (Pembuatan Plat)

Setelah semua lembaran salinan typeset dan artwork telah dipasang menjadi layouts, proof dibuat untuk memastikan semua bagian dan warna ada dalam tempat yang sesuai. Proof memberikan kesempatan pada pelanggan untuk menilai adanya kesalahan dan untuk melihat bagaimana hasil cetakan akan terlihat nantinya.

Akhirnya, layout yang dikoreksi (flats) digunakan untuk membuat plat darimana gambar akan dicetak. Plat ini dibuat dari substansi keras seperti logam, karet, atau plastik. Gambar yang hendak dicetak ditransfer ke plat sekaligus dengan cara yang berbeda-beda. Gambar akan tercetak ketika plat yang telah ditintai menekan kertas atau material lain.

Printing Presses (Mesin Pencetak)

Saat plat percetakan telah dibuat, plat akan diletakkan pada mesin yang dinamakan presses yang digunakan untuk mencetak pada kertas atau material lainnya. Mesin percetakan melakukan beberapa fungsi otomatis: Presses menintakan plat; meletakkan kertas atau bahan lain ke plat: mencetak image dengan mentransfer tinta dari plat ke kertas atau material lain; dan melekatkan bagian-bagian yang tercetak. Beberapa presses, disebut perfecting presses, mampu memcetak kedua sisi kertas pada saat yang bersamaan.

Presses bisa merupakan sheet-fed (menggunakan satu sheet pada satu waktu) atau web-fed (menggunakan rol yang berkesambungan, atau web dari kertas atau material lain.) Presses bisa mencetak satu warna atau beberapa warna.Pada percetakan multiwarna, setiap warna membutuhkan unit percetakan yang terpisah, masing-masing memiliki plat dan tintanya sendiri.

Ada banyak macam presses yang berbeda, tetapi semua itu hanya terdiri atas tiga kategori dasar: platen (permukaan rata) presses; presses silinder; dan rotary (gerakan memutar) presses. Dari ketiga kategori ini, rotary presses merupakan jenis yang paling sering digunakan saat ini.

Penyelesaian dan Penjilidan

Setelah material selesai dicetak, material biasanya melewati operasi akhir untuk menjadi produk yang telah selesai.

Beberapa cetakan lembaran, seperti poster dan alat tulis menulis kantor, bisa langsung dikirimkan tanpa proses yang lebih lanjut. Bagaimanapun juga, kebanyakan produk yang dicetak dalam ukuran besar terdiri atas beberapa gambar yang terpisah.

Setelah lembaran ini dicetak dan dilipat, barang-barang ini disebut sebagai signatures.

Signature disusun sesuai urutannya, dibatasai, dan dipotong.Pekerjaan ini memerlukan pelipatan dan memotong signatures, atau membuat macam dari paket khusus dan material periklanan, disebut juga finishing.

Prosedur penjahitan, penjepretan (stapling), atau pengeleman halaman ke punggung (untuk membuat material seperti buku, majalah, dan katalog) disebut sebagai binding.

Ada banyak metode percetakan yang berbeda, tetapi hanya tiga yang biasa digunakan secara umum.

Perbedaan paling menonjol adalah mengenai tipe dari plat, atau permukaan pencetakan.

Mereka menggunakan: percetakan letterpress dilakukan dengan permukaan pencetakan yang timbul; litografi dilakukan dari permukaan pencetakan datar; dan gravure dilakukan dari permukaan pencetakan yang cekung kedalam.

Penerbitan : Proses dan Tahapannya

Yang anda ajukan cukup naskahnya dalam bentuk ketikan (misalnya Ms Word) dan bisa disertai print outnya agar memudahkan Penerbit dalam memproses naskah tsb.

Penerbit biasanya memberikan banyak kemudahan bagi pengarang yg sudah banyak mengarang buku. Penerbit mau saja menerima kiriman naskah melalui email dsb.

Eits, jangan lupa untum mencantumkan biodata selengkap-lengkapnya kalau bisa. Kontak Person juga selengkap-lengkapnya kalau bisa, nomor HP, email, dll.

Penerbit akan menentukan apakah naskah tsb layak diterbitkan dan kira2 dibutuhkan masyarakat (ada penilaian terhadap isi naskah maupun kwalitas/bobot pengarangnya)

Lalu Penerbit akan mengontak pengarang dan membicarakan isi naskah maupun honor.

Sistem honor tergantung sistem yg dianut oleh Penerbit. Bisa bersifat langsam (seolah naskah tsb dibeli oleh Penerbit) dengan memberi harga pada naskah tsb, misalnya dibeli seharga Rp 3.000.000.- dan dibayar secara sekaligus atau bertahap.

Tergantung pengajuan Penerbit dan disetujui oleh pengarang.

Kerugian sistem ini bagi pengarang adalah : Penerbit bisa mencetak naskah tsb dalam jumlah banyak dan bisa dicetak beberapa kali, tanpa memberi honor tambahan lagi kepada pengarang.

– Bisa juga dengan sistem Royalti dimana pengarang memperoleh persentase terhadap harga naskah/ buku tsb. Rata2 nilai royalti: 10% s/d 15% dari harga buku yang terjual. Pengarang2 yg sudah terkenal sering ditawari honor yang tinggi karena Penerbit yakin buku karangannya bakal laku keras.

Misalnya: buku tsb akan dicetak sebanyak 5.000 buah/eksamplar dan dijual dengan harga Rp 15.000.- per eksamplar. Maka pengarang akan memperoleh honor (dianggap semua buku terjual): 10% x 5.000 x Rp 15.000.- Sering pembayaran ini pun dilakukan secara bertahap misalnya 1 x 3 bulan atau 1 x 6 bulan.

Bila buku tsb dicetak ulang lagi, maka Penerbit membuat perjanjian lagi dan pengarang akan memperoleh royalti lagi.

Biasanya Penerbit akan mengontak pengarang lagi untuk cetak ulang (karena bisa jadi pengarang tidak bersedia lagi dan mau pindah ke Penerbit lain).

Bila sistem honor telah disepakati bagaimana dengan naskah itu sendiri?

Dengan menggunakan softcopy naskah yg diberikan dalam bentuk ketikan MsWord tsb, Penerbit akan mengolahnya dan mengatur layout serta membuat desain covernya. Desain cover bisa juga diajukan oleh pengarang bila pengarang juga seorang yg ahli dalam desain. Setelah desain cover dan layout isi buku telah selesai, maka akan dimulai proses cetak.

Proses cetak sering dimulai dengan mencetak contoh (dummy) dulu dan melihat hasilnya agar kelak tidak terjadi kesalahan besar. Setelah itu akan dilakukan proses cetak sejumlah yg diinginkan (misalnya: 5.000 buah buku).

Penerbit akan memberikan buku contoh hasil cetakan bagi pengarang untuk file pribadinya dan kemudian

Penerbit akan melakukan pembayaran kepada pengarang sesuai Perjanjian yg telah disepakati/ditandat angani.

Bila buku tsb ingin dicetak terus dan ternyata pengarangnya telah meninggal, maka perjanjian dan hak pembayaran royalti akan diberikan kepada ahli waris (istri/ anaknya) dan seterusnya Penerbit akan berurusan dengan ahli warisnya.

Penerbit akan menyebarkan buku tsb ke toko buku untuk dibeli oleh masyarakat.

note : Perjanjian Royalti adalah antara pengarang dan Penerbit, sedangkan Hak Cipta adalah Hak Pengarang yang bisa diurus oleh pengarang dengan mendaftarkannya ke Departement Kehakiman & HAM, Direktorat Hak Cipta.

Penerbit tidak mengurus Hak Cipta karena Hak Cipta adalah urusan pengarang (kecuali naskah tsb telah dibeli oleh Penerbit dan sepenuhnya menjadi hak milik Penerbit).

Tidak banyak buku yg didaftarkan Hak Ciptanya oleh pengarang, biasanya buku2 yg sangat terkenal atau buku yg bakal dibutuhkan terus yg didaftarkan Hak Ciptanya oleh pengarang. Contohnya: buku cerita Wiro Sableng didaftarkan oleh pengarangnya ke Dept. Kehakiman & HAM.

Anda juga bisa mengikuti Artikel PENTAS GRAFIKA melalui Social Media di Facebook, Twitter atau Channel Youtube.